Gaji Suami Lebih Kecil

Gaji Suami Lebih Kecil Gaji Suami Lebih Kecil

Sebelum artikel ini dirilis, saya mengadakan diskusi di grup member MJ sedikit perihal nafkah suami yang lebih kecil. Dan mayoritas yang memberikan pendapatnya, mengatakan tidak keberatan apabila kondisi gaji suami lebih kecil SELAMA mentalnya kaya.

Proud of u ladies cool

Nah sekarang, salah satu member MJ yg sudah berumahtangga, sebut saja namanya Lia (FYI, gak semua member yang join masih single, banyak juga yg sudah menikah dan masih ingin belajar).

So, jika kamu penasaran... silakan ambil posisi yang enak utk lanjutkan baca (agak panjang soalnya laughing )

*******

Jose saya boleh cerita dan minta solusi bagaimana teknik komunikasi yg tepat untuk menyampaikan mau saya biar gak menyinggung. apa yg sebaiknya saya sampaikan biar sama-sama enak.

jadi gini, saya sudah menikah, dari awal kenal dengan suami saya memang saya sudah tau pekerjaan & pendapatan yg diterima, sebaliknya begitu jg, suami saya sudah tau pekerjaan & pendapatan saya. pendapatan saya lebih besar dari dia.

karena memang suami saya pindah-pindah perusahaan jd jenjang karirnya kurang bagus. sedangkan saya disatu perusahaan saja. suami pindah-pindah pun krn pekerjaan saya berpindah-pindah, jd demi kami kumpul gak LDR, dia rela pindah-pindah bekerja untuk ikut kemana saya pindah kota (mesti disatu perusahaan yg sama).

yang mau saya tanyakan, bagaimana cara untuk mengkomunikasikan perihal keuangan agar semua pihak tidak tersakiti, jujur saya takut menginggung suami saya.

tp disisi lain saya punya kebutuhan pribadi yg harus saya penuhi. dan yg paling penting saya ingin punya tabungan untuk punya rumah, ini yg paling penting untuk saya & anak-anak saya.

untuk kondisi pendapatan suami saya sendiri, saya tau persis usaha (ikhtiar) dia untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, cm yang saya pengen tau gimana menyampaikan bahwa hasil pendapatan saya ini akan saya gunakan untuk kebutuhan saya & untuk tabungan. saya khawatir dia minder dg saya krn belum mampu untuk kasih lebih ke saya.

terima kasih.

*******

Dear Lia, Kamu mau jawaban yang terbaca manis dan bisa menyelesaikan masalahmu secara sementara saja, atau Kamu mau mendengar jawaban yang terkesan "pahit" namun jujur dan menyentuh INTI MASALAH hingga hal ini tidak menjadi masalah lagi di masa depan selama-lamanya? Hehe ^ ^

Well, yang manapun pilihan Kamu, saya akan tetap memberikan jawaban "pahit" yang JUJUR, karena saya peduli padamu...

Tentang ini sebenarnya memang BELUM saya sentuh sama sekali di module MJ dan BP. Karena ini adalah materi khusus untuk mereka yang sudah menikah seperti Kamu.

Dan insyaAllah akan mulai saya produksi tahun depan, karena di tahun itu insyaAllah saya juga akan memperluas kontribusi pada mereka yang sudah menikah. Mohon doanya ya.. smile

Oke, kembali ke problem Kamu.

Sebelum saya bahas, bagaimana cara mengomunikasikan tentang ini DAN agar si suami lebih giat bekerja serta menghasilkan finansial LEBIH lagi, saya akan membahas masalah intinya dulu.

Di email sebelumnya kamu menceritakan bahwa pendapatan suami belum sebesar pendapatan Kamu, dan hal ini terjadi bukan karena dia tidak giat bekerja, tapi karena dia mengalah dan mengikuti jalur karir Kamu.

Benar begitu? Jika Kamu setuju, Kamu boleh lanjutkan membaca...

Dear Lia...

Dalam pernikahan yang powerful, bahagia, dan memberikan dampak kebaikan pada diri dan dunia, selain value yang sinergi, Kamu juga membutuhkan POLARITY.

Polarity adalah pembagian peran yang JELAS dan tegas pada pasangan.

Contoh paling general:
- Si suami berperan sebagai sosok MASKULIN, seorang provider dan protector yang baik.

- Si istri berperan sebagai sosok FEMININE, seorang yang dilindungi, manager, dan supporter dari provider

Setiap pasangan pernikahan, membutuhkan peran yang NYATA bedanya, ini bukan artinya wanita tidak bisa memiliki karir, bukan itu.

Tapi tentang PERBEDAAN PERAN.

Permasalahannya begini...

Pria sejatinya maskuline, namun dengan beberapa sikap adaptif si pria bisa berperan menjadi feminime (bukan artinya menjadi banci / orientasi seksual)

Begitu juga wanita, sejatinya feminime, namun dengan beberapa sikap adaptif, si wanita bisa berperan menjadi maskuline (tidak selalu menjadi orientasi seksual)

Dan berdasarkan cerita kamu, saya bisa melihat POLARITY di pernikahan kamu mulai memudar.

Si suami kini tidak memiliki sikap sebagai PROVIDER, malah lebih ke arah supporter dan berperan sebagai feminime.

Si istri justru kebalikannya, benar begini kan?

Dan celakanya, kita tidak bisa benar-benar bahagia ketika kita menjadi sesuatu yang bukan diri kita.

Dan itulah yang sedang terjadi pada dirimu sekarang, Kamu hendak mengkomunikasikan hal ini karena merasa tidak puas dengan pembagian peran masing-masing. Kamu ingin merasa lebih feminime, dan ingin dia menjadi lebih maskulin.

Dan tentu saja, suamimu merasakan hal yang sama. Meskipun dari luar dia terlihat baik-baik saja, tapi didalam dia merasakan hidup dia tidak sebergairah biasanya. Karena dia menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Lalu bagaimana cara memperbaikinya?

Satu hal yang pasti, hal ini tidak bisa diperbaiki hanya bermodalkan kata-kata. Mungkin kata-kata bisa membuatnya paham, tapi tidak cukup untuk membuat si suami BERUBAH SEKARANG JUGA.

Well, ada 3 syarat mutlak jika seseorang ingin berubah:

- Seseorang harus sadar sampai level sistem syarafnya bahwa perubahan itu HARUS dan MUTLAK sekarang

- Seseorang harus bisa merusak pola lamayang membuatnya tidak bisa berubah

- Seseorang harus membiasakan pola baruyang membuatnya bisa berubah

KETIGA syarat tersebut harus ada... satu terlewat, perubahan hanyalah fatamorgana.

Untuk suamimu mudahnya begini:

- Dia harus berada dalam kondisi, jika dia tidak lebih giat bekerja sekarang, akan ada "bencana besar" yang terjadi. Sehingga tidak ada pilihan lain selain berubah SEKARANG

- Dia harus berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan dia bersantai-santai dan menjadi supporter, karena jika tidak keluarga dalam "bahaya besar"

- Dan dia harus berada dalam posisi, bahwa dia yang harus menjadi PAHLAWAN dalam rumah tangga, bukan istri

Sudah kebayang kan bagaimana caranya? Hehe... C'mon pasti Kamu sudah tahu apa caranya. ^_^

Perlu saya jelaskan juga? Oke... ini caranya

- Mulai dari sekarang Kamu (istri) putuskan dan izinkan dirmu untuk berhenti bekerja, sehingga kamu kembali pada peranmu yang sejati yaitu sebagai supporter. Dengan begini, sumber pendapatanmu akan terhenti, dan hal ini akan menjadikan dirinya sebagai provider. Dalam hal ini perubahan perilaku si pria menjadi mutlak, dan pola lama yang membuatnya menjadi supporter pun sudah di eliminasi.

- Biasakan pola baru dan buat dia FEEL GOOD sebagai provider. Beri dia label positif sebagai pria maskulin, menyerah dan bersandar pada keperkasaannya, bangkitkan kejantanannya, syukuri dan senangi setiap hasil yang dia bawa, dll (ada di bahasa pria)

Jadi, inilah yang perlu kamu lakukan:

1. Putuskan berhenti bekerja

2. Katakan:
"Sayang, mulai besok aku mau berhenti bekerja aja ah. Soalnya sekarang aku sadar, aku sudah punya suami terbaik di dunia. Kamu selama ini sudah mau mengalah di pekerjaanmu hanya untuk karirku.

Dan kini aku sadar, yang aku butuhkan selama ini sebenarnya bukanlah uang, aku membutuhkan KEBAHAGIAAN karena berada dibawah perlindungan dan keperkasaan kamu.

Karena aku yakin, kamu bisa menghasilkan finansial jauh lebih besar, selama aku ada disini bersama kamu mensupport kamu. Aku akan tetap bantu kamu kok, aku akan mulai bisnis / apapun dari rumah sehingga masih bisa menghasilkan, tapi hasilnya buat belanja dan tabungan aku yah? hehe kan aku butuh perawatan, biar bisa tetep cantik ngerawat kamu

Dan tentang rumah tangga ini, ban kaptennya aku serahkan pada kamu. Bawa aku dan anak-anak mengarungi dunia mas, petualangan yang seru, petualangan yang bisa membuat kita lebih baik lagi, petualangan yang bisa membuat hidup kita lebih berguna lagi. Demi Allah aku percaya pada kamu mas. Karena kamu adalah pahlawanku, semangat! ^ ^

3. Kondisikan terus bahwa dia adalah pahlawanmu dll (ada di BahasaPria)


Fiuh... panjang ya? hehe...

Yang saya sarankan hanyalah salah satu saran terbaik,

"Taaaapiii kan gak semudah itu berhenti kerja???" Yup! Saya paham banget kok laughing

Untuk jangka pendek, mungkin kamu dan suami bisa mulai membagi jatah gaji. Sekian utk kebutuhan ini, sekian utk kebutuhan itu.

Hanya saja, saya khawatir kalau dibiarkan berlama2, PERAN dlm rumah tanggamu bisa benar2 berubah. Seperti yg sudah saya jelaskan tadi. Dan tentu bukan itu yg kamu mau bukan? smile

untuk lebih lengkapnya kita bisa obrolin dlm sesi coaching.

P.S:
Well, perubahan itu sederhana dan dekat, dan saya yakin kamu bisa melakukannya. Apakah kamu MAU melakukannya? Jawabannya hanya kamu yang tahu ^ ^

P.P.S:
Buat kamu yang belum  join Bahasa Pria disini, jangan tunggu nikah dulu baru belajar komunikasi, Okey? wink

P.P.P.S: Pendaftaran Bahasa Pria akan kembali dibuka tanggal 26 Mei 2017. Join Waitinglistnya Disini!

Pic Credit: Pexels

Be Great, Be Loved, and START TODAY!

your love coach,
Jose Aditya

Mau Ngobrol dengan saya? Follow saya di instagram @LoveCoach.ID atau LIKE saya di Facebook.

Jose Aditya

Jose Aditya 101 Post

Jose Aditya dikenal sebagai Pelatih Percintaan Wanita#1 di Indonesia.

Dengan niat awal untuk membantu sang kakak perempuan untuk menggapai cinta, Jose Aditya melakukan riset mendalam mengenai kehidupan cinta wanita dari aspek psikologis, biologis, dan neuroscience.

Setelah sedikit banyak berhasil, dia sadar bahwa bukan hanya kakaknya seorang yang membutuhkan solusi ini, melainkan juga jutaan wanita Indonesia lainnya.

Impiannya kini adalah membantu 1 juta wanita untuk bahagia dalam kehidupan cintanya. Dan kini telah berhasil menyentuh kehidupan cinta puluhan ribu wanita Indonesa. Perjalanan masih jauh kawan!

Tinggalkan Komentar